Liputan TDA : Halal Bi Halal dan Sharing Bisnis

Bagi seorang pegawai di sebuah perusahaan, mempunyai penghasilan dikala pensiun mungkin menjadi mimpi pada beberapa orang. Bagaimana tidak, beberapa perusahaan justru menjanjikan pesangon yang nilainya lumayan untuk bekal pegawainya menjalani pensiun. Jika mantan pegawai ini tidak bisa mengelola keuangannya, yang ada adalah jatuh bangkrut dan tak memiliki uang di kala pensiun. Beda mungkin pada beberapa perusahaan yang menjanjikan dana pensiun diberikan tiap bulan selama masa pensiun hingga seumur hidup.

Setelah ketua TDA Jakarta Utara, Ahmad Fauzi memaparkan tentang visi dan misi TDA, 3 ON (Lesson, Action dan Recognitionserta berbagai informasi lain terkait pesta wirausaha 2016, Harmanto yang dikenal dengan panggilan Opa oleh para anggota Komunitas Tangan Di Atas Jakarta Utara berbagi di sharing bisnis bulan Agustus 2015 yang sekaligus kegiatan Halal bi halal Syawal 1436 H.  Bertempat di kediaman Ferdinan sang Bendahara Umum TDA Jakut, bersama puluhan anggota Opa berbagi kisah asal muasal beliau resign dari sebuah pabrik mobil mentereng dengan level kepegawaian yang sudah lumayan demi membangun bisnis keluarga bersama sang istri tercinta.

Pertanyaan seorang mantan atasannya yang sudah pensiun, mengusik hari-hari Opa beberapa lama yang menghasilkan diskusi panjang dan sebuah keberanian untuk memilih pensiun dini dari perusahaan, kala teman-temannya masih membangun mimpi dan karier di perusahan milik Jepang tersebut. “Berapa lama lagi kamu harus memasuki masa pensiun?” itu pertanyaannya.

Mulai usaha dari yang mampu dilakukan. Menjual rujak serut merupakan usaha pertamanya. Rujak serut yang diproduksi ini menggunakan air teh dari jamur komboucha yang sore itu juga turut serta dibawa untuk memeriahkan acara halal bi halal TDA Jakut,  hari Minggu 9 Agustus 2015 lalu. Beliau menasehati kita agar jangan malu untuk manjajakan dagangan kita, “toh itu usaha kita”.

Ning Harmanto lebih dikenal dengan panggilan Oma, yang telah merintis bisnis semasa suaminya masih bekerja, memulai usahanya dari akar rumput. Berawal dari kumpulan ibu-ibu kelompk tani bunga Lily yang ada di tempat tinggalnya dia mengembangkan tanaman herbal. Tak malu beliau mengawali jualan jamu di lapangan Banteng Jakarta Pusat. Semua harus dimulai dengan perasaan positif, semangat untuk maju dan tak perlu malu memulai dari bawah, itu prinsip yang beliau pegang.

Perusahaan obat herbal yang beliau kelola, Mahkotadewa Indonesia telah 2 tahun berturut-turut memenangkan penghargaan dari Badan Standarisasi Nasional dan produknya telah dipasarkan hingga mancanegara. Sudah saatnya produk herbal kini dilirik oleh para akademisi agar herbal tak dipandang sebelah mata saja.

Oma Ning menyarankan agar pengusaha memberi nilai lebih pada produk masing-masing sehingga dapat meningkatkan value/ harga jual produk tersebut. Sebagai contoh adalah telur asin rendah kolesterol yang tentu harga jualnya lebih tinggi dari telur asin pada umumnya. Inovasi-inovasi ini harus dilakukan pengusaha agar usahanya langgeng.

Sore itu juga turut hadir dua orang perwakilan dari Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jakarta Utara, mereka ingin mengenal serta bersinergi dengan TDA Jakarta Utara khususnya dalam bidang pemasaran dan meminta agar TDA berbagi keilmuan dan pengalaman agar lebih memperkuat perekonomian para anggota yang ada di KTNA.

Acara halal bi hahal ini berlangsung cukup meriah sejak acara pembukaan hingga acara penutupan. Diharapkan acara ini dapat memperkuat hubungan dan jaringan bisnis antar anggota.


Other articles