Entrepreneur yang Inovatif

Entrepreneur yang Inovatif

Menurut Ciputra, Indonesia membutuhkan Inovatif entrepreneur, artinya entrepreneur yang mampu menciptakan nilai tambah (value added), bukan sekedar entrepreneur yang bertipe “broker” atau “berdagang”. Bukan berarti berdagang atau menjadi broker/perantara bisnis tidak termasuk kategori wirausaha. Akan tetapi, dengan menjadi inovatif entrepreneur inilah nilai value added yang terengkuh lebih maksimal, baik dari sisi daya tahan menghadapi persaingan karena barang dan jasa yang diciptakan nilai tambahnya tinggi sehingga susah ditiru pesaing, maupun dalam hal penyerapan tenaga kerja, biasanya tenaga kerja yang diserap lebih banyak ketimbang menjadi entrepreneur pedagang (trading).

Mengembangkan bisnis agar semakin berkembang bukan urusan mudah. Banyak sekali tantangan yang harus dihadapi selain faktor permodalan. Menjalankan bisnis memang sulit. Selain ketekunan, kreativitas dan inovasi, entrepreneur juga butuh keberanian. Mengembangkan bisnis itu artinya Anda berteman dengan ketidakpastian. Oleh karena itu, jika entrepreneur tidak memiliki keberanian, maka sulit untuk membuat usahanya semakin besar. Harus ada rasa optimistis, itu sangat penting untuk membuat Anda bersemangat.

Bersahabat dengan ketidakpastian ini adalah mempelajari setiap langkah yang akan dijalankan. Ketidakpastian pada usaha-usaha yang tidak dikenal, alangkah lebih baiknya jika bukan menjadi prioritas untuk dipikirkan. Ingat ada risiko, namun semakin pasti suatu bisnis, semakin kecil risiko yang dihadapi dan semakin kecil kemungkinan keuntungan. Sebaliknya semakin berisiko usaha itu maka tingkat

Entrepreneur harus memperhatikan perkembangan pasar. Pergeseran pasar penting untuk melihat minat konsumen. Sebab minat ada hubungannya dengan permintaan. Semakin tinggi minat dan kesukaan, maka permintaan akan  semakin tinggi dan produksi akan terus meningkat.

Saat ini kondisi Indonesia selain kurang memiliki orang-orang berjiwa entrepreneur, juga kurang memiliki inovasi. Kebanyakan ekspor kita adalah ekspor bahan baku, di mana setelah berada di negeri orang, bahan baku itu akan diproses kembali menjadi bahan jadi, dan di impor ke Indonesia lagi. Dengan memiliki inovasi, maka kita dapat menciptakan sebuah produk, atau sebuah added value sehingga kita tidak hanya menjual bahan baku dengan harga murah, namun kita bisa menciptakan suatu produk yang sudah jadi. Dan kalau bisa produk itu unik.

Industri di Indonesia memerlukan banyak inovasi. Kita masih mengandalkan produk-produk luar yang notabene bukan produk bangsa sendiri. Jika jumlah inovatif entrepreneur tersebut bisa ditingkatkan, maka produk-produk Indonesia akan membanjiri pasar dalam negeri sendiri. Di sini peran pemerintah sangat vital, bagaimana menciptakan masyarakat yang cinta produk dalam negeri. Saat ini pemerintah selalu mendorong investasi dari luar negeri, padahal potensi dari dalam belum digenjot, jadi jangan heran di era globalisasi ini kita hanya menjadi pemakai dan penonton saja.

Kita bisa memberi contoh di negara-negara maju, inovasi industri didorong oleh pemerintahnya masing-masing. Bagaimana Malaysia, Jepang, Amerika Serikat, Tiongkok dan lain sebagainya bisa maju karena mereka sangat inovatif dan pemerintah mereka membantu serta mendorong para pengusaha-pengusaha yang inovatif tersebut. Produk-produk dalam negeri mereka sangat dicintai oleh masyarakatnya, bukan karena lebih murah, bukan karena lebih baik, namun karena milik bangsa sendiri.

Indonesia tidak kurang memiliki inovator-inovator. Bahkan banyak. Bangsa ini adalah bangsa kreatif, saya sangat yakin. Bahkan negara lain pun mencuri ide-ide kreatif dari anak bangsa kita. Kita bisa sebut batik, pesawat, senjata, dan banyak industri-industri yang sangat inovatif, baik jasa maupun produk. Bahkan tidak sedikit anak bangsa yang melahirkan suatu ciptaan namun dipakai oleh negara lain.

Sahabat, bagaimana menciptakan sebuah inovasi dalam bisnis? Idealnya untuk dapat “melahirkan” entrepreneur yang inovatif setidaknya melekat 3L (Lahir, Lingkungan, dan Latihan). Artinya kalo seseorang dilahirkan dari keluarga yang berprofesi entrepreneur akan lebih mudah diarahkan menjadi entrepreneur. Kalau lingkungannya mendukung pengkondisian menjadi entrepreneur yang handal akan lebih baik. Apalagi kalau disamping 2L di atas, ditambah L yang ketiga atau latihan (proses dan latihan), hal ini akan semakin mempercepat lahirnya entrepreneur. Di Indonesia, dua L pertama (Lahir dan Lingkungan) kurang kondusif, mengingat tidak banyak anak yang “dilahirkan” dari keluarga yang entrepreneur, dan dari sisi lingkungan pun yang masih “mendewa-dewakan” bekerja kantoran dengan mengunakan kemeja “berdasi” dan bekerja di kantor orang lain juga masih menjadi pola pikir (mind-set) yang mendominasi. Agaknya L ketiga atau latihan (process) menjadi pintu masuk “mencipta” entrepreneur.

Selain itu juga adalah pengalaman. Pengalaman yang didapat kita akan menimbulkan ide-ide kreatif. Jadi bagi sahabat yang ingin bagaimana ide inovatif itu muncul, bersabarlah. Latihlah, dan tekunilah, serta banyak-banyaklah kita bersilahturahmi serta menimba ilmu dari mana saja. Tapi saya sangat yakin, anak bangsa ini sudah inovatif sejak dari dulu. Banyak sekali saya temui orang-orang yang memiliki ide gila dan dahsyat.

Selamat menciptakan sesuatu yang inovatif sabahat, mari kita bersama sama memajukan negeri ini, untuk kesejahteraan umat.

Aditya Hayu Wicaksono
Direktur Keuangan TDA 3.0
@adithw


Other articles