Siapa Mau Putuskan Mata Rantainya ..?

Mau Putuskan Mata Rantainya ..?

Kita semua tentu sudah bersyukur dengan kondisi kita dan keluarga besar yg kita miliki dari orang tua dan kakek nenek terdahulu. Akan tetapi sering kali kita menyaksikan dan bertanya-tanya “Kok ada ya keluarga-keluarga yg punya kehidupan makmur atau super makmur, bukan hanya dari sisi ekonomi untuk mereka sendiri, tetapi juga punya peran yang begitu besar untuk masyarakat disekitarnya?”

Sebagai contoh, dahulu ketika saya berprofesi sebagai tenaga pemasaran di sebuah perusahaan asing,  saya takjub ketika bertemu calon pelanggan, yang seorang  anak muda berumur 25-26 tahunan seperti saya kala itu, disebuah kota cukup besar di Jawa Tengah. Melihat dia yang seusia saya, namun telah memiliki kehidupan bagaikan raja, dengan berlimpahnya materi, serta memimpin perusahaan keluarga yang cukup besar,  dengan ratusan karyawan yang bekerja di sana.

Bahkan saking ngetopnya usaha dan jalinan hubungan dari keluarga ini, ketika saya menggunakan jasa hotel ataupun restoran dikota itu, dan menyebut bahwa kita dari Jakarta  tamu dari perusahaan keluarga ini, maka hotel dan restoran terkenal tersebut langsung memberikan diskon khusus.

Akan tetapi dalam ketakjuban dan perasaan ‘iri’ terhadap anak muda ini, beruntung dalam suatu waktu saya diberi kesempatan untuk bertemu dengan ayah dari anak muda ini, yaitu generasi pertama yang mengambil keputusan untuk memutus mata rantai kondisi keluarga yang miskin dan biasa saja. Dialah yang telah sanggup bekerja keras dari nol dan membangun usahanya menjadi besar, sehingga kondisi keluarganya berubah 180 derajat seperti sekarang.

Ketika saya tanya kisah perjuangan Bapak ini, di salah satu kantornya di Glodok Jakarta, dengan bersemangat dan seringkali matanya berkaca-kaca sang ayah ini bercerita, bagaimana dia yang semula seorang guru kemudian, dengan niat untuk mengubah nasib, akhirnya nekad banting setir menjadi pedagang alat-alat listrik, seperti kabel, lampu, senter, jack, saklar dan lain-lain. Mulanya dia belanja kulakan ke Jakarta dari kotanya dengan naik kereta dan sering harus berdiri selama di kereta. Setelah mengambil barang dari Jakarta, kemudian barang dagangan ditawarkan keliling ke toko-toko dengan naik vespa butut ditengah panas matahari ataupun hujan.

Usaha yang semula hanya punya satu anak buah yang membantu, akhirnya terus berkembang dan berkembang, sehingga sekarang telah menjelma menjadi pabrik besar di bidang kabel dan alat listrik, dengan distributor tersebar di banyak kota, serta menjadi importir kelas kakap dari berbagai alat listrik,elektronik, audio dan alat rumah tangga, yang mereka distribusikan keseluruh Indonesia.

Di antara hati yang bergemuruh oleh rasa haru akan perjuangan bapak ini, serta munculnya semangat dan kesadaran dalam diri yang paling dalam, saya memahami bahwa memang harus ada satu orang atau generasi yang mengambil keputusan dan memulai bekerja keras untuk memutus mata rantai ketidakberdayaan dalam keluarganya.

Mereka yang telah menjadi keluarga-keluarga hebat seperti yang dimaksud di awal cerita di atas, pada awalnya juga  mengalami kondisi yang sama, atau bahkan lebih parah dari keluarga kita. Kondisi turun-temurun tersebut ibarat mata rantai yang terkait kuat dan tak berujung.

Ternyata kehidupan hebat yang mereka peroleh tidak turun dari langit. Akan tetapi pada suatu masa harus ada satu generasi yang berani mengambil keputusan untuk memutus mata rantai kondisi biasa-biasa atau ketidakberdayaan tersebut, dan sanggup bekerja keras serta melakukan hal-hal luar biasa untuk membuat sejarah baru dan merubah kondisi keluarga mereka, sehingga anak cucu mereka tinggal menikmati dan melanjutkan.

Kala itu akhirnya saya mengambil keputusan untuk mau bekerja keras dan mengambil tanggung jawab untuk memutus mata rantai ketidakberdayaan dalam keluarga saya. Dan meskipun belum tentu putus, saya bertekad untuk membuat mata rantai menjadi serenggang-renggangnya, sehingga anak atau cucu saya menjadi mudah untuk memutusnya.

Pada akhirnya saya sangat terharu, ketika setelah sekitar 9 tahun, sejak keputusan itu saya ambil dan melakukan proses penuh perjuangan dan pengorbanan, saya mendapat undangan istimewa dari keluarga pengusaha sukses yang saya ceritakan di atas. Yah, undangan di mana saya mewakili perusahaan sendiri, untuk menghadiri peresmian ekspansi pabrik terbaru mereka, lengkap dengan kamar hotel yang telah mereka siapkan.

Suatu momen tak terlupakan adalah ketika seluruh tamu undangan di jamu dalam acara istimewa di sebuah ball room hotel, di mana saya meski dengan kikuk,oleh tuan rumah sengaja didudukkan berhadap-hadapan dengan dua orang petinggi perusahaan asing, yang bertahun-tahun sebelumnya mereka menjadi bos saya. Ini adalah pertemuan pertama kali, di mana saya telah menjadi Presiden Direktur diperusahaan yang telah cukup berkembang, yang juga adalah perusahaan saya sendiri, sedang mereka berada diposisi yang sama seperti dahulu, seorang General Manajer dan Manajer Divisi yang dulu perintahnya harus saya turuti, meski seringkali dengan setengah hati.

Kita semua sudah terlahir dalam keluarga dengan orang tua dan kakek nenek yang seperti ini adanya. Kehidupan keluarga yang biasa-biasa saja yang telah terbentuk layaknya sebagai lingkaran mata rantai.

Selanjutnya, siapa yang mau mengambil keputusan dan bekerja keras untuk memutus mata rantainya? Sehingga sebuah keluarga biasa akan menjadi luar biasa.

Kita sendiri, atau akan menunggu anak atau cucu kita untuk melakukannya? Jawabannya ada dalam diri kita masing-masing tentunya.

Let’s Break the Chain !!!

Mustofa Romdloni
@tofazenith
MR Corporation


Other articles