Sebuah Kontes

Sebuah Kontes

Dalam dunia yang sempurna, tentu semua berharap bahwa langkah yang diambil seorang pemimpin selalu disukai dan didukung oleh seluruh anggota tim yang dipimpin. Dalam dunia nyata, pemimpin dituntut untuk berhasil membawa organisasi yang dipimpin mencapai tujuannya. Dan dalam mencapai tujuan tersebut, bisa jadi keputusan yang diambil tidak disukai sebagian besar anggota tim. Popularitas dan dukungan terhadap sang pemimpin pun bisa terancam. Yang pada gilirannya bisa mempengaruhi keberhasilan mencapai tujuan. Lalu apa yang harus dilakukan?

Pemimpin perusahaan raksasa IT dunia, IBM di awal era 2000 pernah membuat sebuah keputusan yang tidak populer. Sam Palmisano yang kemudian menjabat sebagai CEO IBM selama satu dasawarsa, pada waktu itu melihat bahwa sekalipun IBM terbilang berhasil dalam mengembangkan bisnis Personal Computer (PC), namun sesungguhnya sedang menekuni bisnis yang menurutnya tidak akan sesuai bagi IBM di masa mendatang

Sam Palmisano membuat sebuah keputusan yang bagi sebagian besar karyawan IBM sangat tidak populer, bahkan dianggap mengkhianati IBM sendiri. Yaitu meninggalkan bisnis PC. Ini sebuah keputusan besar, mengingat IBM adalah perusahaan yang mendefinisikan bisnis PC itu sendiri.

IBM lah yang menggagas PC, menciptakan PC, dan menjadi pelopor penjualan PC tidak hanya untuk perkantoran, namun hingga untuk kebutuhan rumahan. IBM identik dengan PC. Jaman saya kuliah bahkan lazim menyebut PC yang bukan buatan IBM dengan embel-embel “IBM Compatibel” di belakangnya.Bagaimana mungkin IBM harus mundur dari bisnis yang diciptakannya sendiri? Sulit bagi sebagian besar orang untuk menerima keputsan ini. Terlebih lagi, para eksekutif IBM yang sudah sangat matang dan menguasai bisnis PC, kini dipaksa untuk masuk ke area baru, yaitu sektor Services, yang oleh Palmisano digadang-gadang akan menjadi bisnis andalan IBM di masa depan.

Palmisano siap untuk tidak populer. Tentu saja bukan karena dia tidak paham seluk-beluk bisnis PC, yang pada waktu itu menyumbang sebagian besar revenue IBM. Justru Palmisano, yang pernah memimpin unit usaha PC IBM, adalah orang yang paham betul bahwa bisnis PC berpotensi berdarah-darah karena persaingan yang semakin lama semakin keras, dan memaksa pabrikan hidup dengan margin tipis. Palmisano memilih untuk meninggalkan arena ini, karena percaya ada arena lain dimana IBM akan bermain lebih baik.

Konsekuensinya, para eksekutif dibawah Palmisano harus belajar kembali dari awal. Meninggalkan zona nyaman di mana sebelumnya sudah sangat mereka kuasai, bahkan mereka berhasil menorehkan nama besar di sana. Benar-benar sebuah keputusan yang sulit diterima siapapun.

Namun Palmisano kemudian terbukti benar. Tanpa bisnis PC, IBM justru melejit disaat internet sedang booming. Dan tetap berkilau ketika gelombang kejatuhan perusahaan dot com terjadi. Karena IBM menyediakan layanan (services) dan infrastruktur, hal yang akan selalu dibutuhkan pada saat dunia teknologi informasi memasuki era internet dan sesudahnya.

Pada saat itulah, semua mengatakan, Palmisano membuat keputusan yang tepat.
Memang, kepemimpinan bukanlah kontes popularitas. Ada kalanya seorang pemimpin harus membuat keputusan yang tidak populer. Namun tentu sebagai pemimpin kita harus siap. Karena pada akhirnya, acuan kita tentu adalah prinsip, values, dan tujuan perusahaan didirikan.

Fauzi Rachmanto
@fauzirachmanto
Presiden TDA 3.0


Other articles