Jam Karet

Jam Karet ...

Ini sebuah pengalaman pribadi ketika melakukan perjalanan cukup panjang dan menarik ke sebuah kabupaten di Kalimantan. Acaranya adalah mengumpulkan siswa-siswi SMK untuk satu sesi pelatihan. Saya berangkat dari rumah, jam 4 pagi, untuk mengejar penerbangan pertama. Perbedaan waktu antara Jakarta dan Kalimantan Selatan, menyebabkan saya tiba di kota tujuan lebih cepat satu jam. Dan rombongan penjemput pun datang terlambat. Saya harus menunggu di bandara lebih dari 30 menit sebelum berangkat ke lokasi acara.

Ternyata, jarak antara bandara ke lokasi lebih dari 100 km. Perjalanannya pun lintas propinsi, dengan kondisi jalan yang menyedihkan. Jarak yang di jalan mulus bisa dicapai dalam waktu tidak lebih dari satu setengah jam, harus kami tempuh dalam waktu nyaris 3 jam.

Dan sepanjang perjalanan, berulang kali petugas penjemput harus menerima panggilan telepon dari panitia pelaksana di lokasi acara. Sekian kali menerima panggilan telepon, hanya untuk menjawab, posisi kami sudah sampai dimana?

Buat saya, tentu saja hal ini membuat tidak nyaman. Saya tahu persis, acara akan dimulai jam 13.00 siang. Jadi posisi masih aman. Landing jam 8.15, menunggu setengah jam dan berangkat ke lokasi sekitar jam 9. Paling lambat kita sampai lokasi jam 12 siang. Aman kan? Mengapa harus berulang-ulang ditelepon?

Akhirnya tersingkaplah sedikit rahasia, yang menunjukkan betapa menyedihkannya cara kita mengelola waktu. Acara yang akan kami hadiri diatur oleh Pemerintah Kabupaten, dengan birokrasi yang cukup panjang. Paling tidak ada 3 pihak yang terlibat, dan masing-masing pihak memberikan waktu tambahan sebagai alokasi ‘jam karet’.

Jadi, hasil rapat final menyebutkan bahwa acara akan dilaksanakan jam 13 siang. Inilah yang dikomunikasikan ke saya. Tetapi ke unit dinas pelaksana, disampaikan bahwa acara akan dimulai jam 12.00. Dari unit ini, pesan berantai pun mulai bergeser.

Pihak selanjutnya adalah kepala sekolah. Pesan yang diterima, memajukan lagi pelaksanaan acara satu jam lebih cepat. Aha, jam 11.00 acara akan dimulai. Parahnya lagi, pesan dari kepala sekolah ke para calon peserta dimajukan satu jam. Jadi yang disampaikan kepada para audiens, adalah informasi bahwa acara akan dimulai jam 10 pagi.

Pantas saja sepanjang perjalanan, para penjemput kami berulang kali harus menerima telepon. Panitia pelaksana di lokasi acara sudah mulai cemas karena para peserta sudah datang sejak jam 9 pagi, dan sudah mulai kelihatan bosan menunggu. Jika sudah bosan, bisa jadi sebelum saya hadir, para peserta sudah meninggalkan lokasi acara.

Beruntung, para peserta masih mampu sabar menunggu. Kami sampai di lokasi dan acara berlangsung meriah. Walau demikian, masih menyisakan satu pertanyaan. Sampai kapan kita masih menyisakan cadangan waktu untuk memberikan toleransi kepada ‘jam karet’?

Zainal Abidin
Direktur Pengawasan dan Kepatuhan TDA 3.0
HeadMaster SekolahMonyet.com
Direktur Social Entrepreneur Academy Dompet Dhuafa


Other articles