Mari Berwirausaha

Mari Berwirausaha

Indonesia merupakan Negara yang memiliki penduduk terbesar keempat, setelah China, India, dan Amerika Serikat. Dengan jumlah penduduk sebesar 229.964.723 jiwa adalah merupakan asset Negara yang paling berharga. Dengan jumlah yang sedemikian besar dan kekayaan alam yang berlimpah.

Ironisnya Indonesia masih kalah dengan negara Singapore, yang ekonominya lebih besar. Bahkan juga Malaysia, yang nilai ekspornya 1,5 kali lipat dari kita. Belum lagi negara-negara seperti Jepang, Swiss, dan negara maju lainnya. Mereka adalah negara yang lebih kecil dari kita dan penduduknya lebih kecil, serta kekayaan alamnya tidak melimpah ruah seperti Indonesia.

Mengapa seperti itu? Bagaimana kita mengejar ketertinggalan kita? Apakah bisa kita mengejarnya? Saya akan bilang, “BISA”. Jika bangsa ini bersungguh-sungguh pasti bisa. Selain korupsi dan hutang yang harus dihapuskan, salah satu factor untuk mengejar ketertinggalan bangsa kita adalah, wirausaha atau entrepreneurship.

Mengapa berwirausaha? Karena dengan berwirausaha berhubungan dengan mindset suatu bangsa. Bangsa ini selalu dikaitkan dengan “bangsa kuli”. Lihat saja seberapa banyak TKI/TKW kita di negeri lain, yang katanya mereka adalah pahlawan devisa. Saya sangat tidak setuju. Karena profesi TKI/TKW merendahkan martabat kita sebagai sebuah bangsa yang agung. Belum lagi banyak berita yang miris tentang mereka.

Berwirausaha mengubah pikiran kita kalau kita bisa mandiri, kita bisa lebih maju daripada bangsa lain, dan dengan berwirausaha akan menggerakkan perekonomian Negara. Kita lihat contoh, Negara Republik Rakyat Tiongkok, dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat luar biasa, dan akan diprediksikan mengalahkan Negara Amerika Serikat sebagai Negara adidaya suatu saat nanti. Negara Tiongkok tumbuh seperti saat ini adalah dikarenakan penduduknya yang banyak berwirausaha.

UKM/Usaha Kecil Menengah mereka sangat banyak dan menjadi tulang punggung negara. Sekarang negara mana yang tidak tergantung dengan Tiongkok. Dari garmen, mainan anak anak, spare part kendaraan dsb. Dari semenjak tahun 1980-an diam-diam mereka belajar dan sedikit demi sedikit membuka diri dengan dunia luar.

Lalu bagaimana cara berwirausaha? Ini lah yang menjadi PR negara ini. Saat ini telah banyak penghargaan-penghargaan, lomba-lomba yang bertujuan menumbuhkan jiwa kewirausahaan. Kewirausahaan memang harus dipupuk sejak dini. Mungkin para pembaca, bahkan saya sendiri dididik oleh orang tua kita kalau sudah selesai kuliah atau sekolah bekerja yang baik, dapat gaji dsb nya. Dan itulah yang membuat jiwa kewirausahaan kita tidak di pupuk sejak dini, kebanyakan.

Apalagi sistem sekolah kita yang hanya focus pada nilai eksak. Apakah telat? Tidak. Jika kita bisa belajar dengan cepat, apalagi saat ini sudah era nya internet, Facebook dan Twitter membuat dunia semakin kecil dan bergerak lebih cepat. Sehingga pengetahuan bisa didapat dengan mudah dan cepat. Belum lagi seminar-seminar serta pelatihan wirausaha. Jika kita niat dan mau, disitu ada jalan.

Saya ingin juga mengatakan berwirausaha itu sulit, lebih sulit jika kita kerja dengan orang. Namun jika kita berhasil, maka hasilnya sangat luar biasa. Belum lagi pahala yang kita dapatkan. Coba bayangkan jika kita berwirausaha, kita bisa menggaji orang, jika orang itu menghidupi 1 istri dan 2 anak, maka semakin banyak pahala kita. Banyak yang mendoakan kita.

Lalu bagaimana memulainya? Gampang, tinggal mulai saja. Cari kesempatan di luar yang banyak sekali tersedia. Bisa saja anda menjualkan produk teman. Atau mungkin anda menjadi penjual pulsa elektronik. Kita melangkah di sesuatu yang mudah dan sederhana dulu saja. Memang jika kita mengawali sesuatu akan sangat berat. Kalau bisa di analogikan, jika kita ingin menuju ke suatu tempat dengan naik mobil, kecepatan kita mengendarai mobil pasti tidak langsung kencang, ada energi besar yang diperlukan untuk menstarter mobil dan menjalankannya.

Begitu juga dengan berwirausaha, awal pasti berat, karena tidak ada di dunia ini yang instan, kecuali mie instan. Semuanya dimulai dengan kerja keras. Tidak hanya kerja keras, namun kerja cerdas. Lalu jangan berharap dalam 1 tahun atau 2 tahun kita bisa memetik hasilnya. Ada memang yang bisa langsung berhasil, namun ada juga yang tidak. Karena setiap manusia ditakdirkan berbeda. Mungkin si A ditakdirkan 2 tahun sudah sukses, dan si B mungkin harus menunggu 10 tahun.

Disini kita memerlukan pikiran yang positif. Jika kita beragama, maka positiflah kepada Allah. Karena Allah pasti akan membantu jika kita bersungguh-sungguh.

Aditya Hayu Wicaksono
Direktur Keuangan TDA 3.0


Other articles