8 Pelajaran Pertumbuhan Startup Bagi Pendiri Pemula

Setiap orang dapat memiliki ide brilian untuk membangun sebuah perusahaan rintisan, atau yang kini lebih dikenal sebagai startup. Tapi tidak semua orang dapat mengeksekusinya dengan baik, apalagi ketika startup bersangkutan termasuk dalam kategori yang memiliki tingkat pertumbuhan dan persaingan tinggi. Pun demikian, pendiri pemula seharusnya dapat memetik pelajaran seiring dengan pertumbuhan startup yang dikelolanya, seperti yang dilakukan oleh Co-Founder sekaligus CFO The SquareFoot Aron Susman.

Sebagai salah satu pendiri di perusahaan yang dirintisnya, Aron telah banyak mengambil nasehat berharga di sepanjang jalan ia berkarir. Setidaknya ada delapan pelajaran berharga yang berhasil dipetik Aron sebagai seorang pendiri perusahaan pemula. Kedelapan pelajaran tersebut adalah:

1. Terdapat pro dan kontra ketika harus berbagi peran bersama teman sesama pendiri bisnis
Di awal ketika memulai bisnis dengan teman-teman sebagai pendiri sebuah bisnis, banyak yang akan sangat bersemangat dan melakukan hal-hal sebanyak mungkin untuk menunjukkan kualitasnya pada pendiri lain. Namun dalam jangka waktu tertentu biasanya masing-masing akan mulai memiliki ego, dan ini akan membuat karyawan bingung, kepada siapa mereka harus melapor. Menurut Aron penting untuk mendefinisikan peran secara spesifik di awal, mengetahui hal-hal yang dapat dan akan berubah. Ini akan dapat menyelamatkan para pendiri dari “rasa sakit kepala” di masa mendatang ketika bisnis sudah mulai matang.

2. Yakinlah, tidak ada yang berusaha mencuri ide
Menciptakan ide dalam bisnis itu mudah, tetapi tanpa eksekusi yang baik ide tersebut tidak akan menjadi apa-apa. Salah satu nasihat terbaik yang didapat oleh Aron selama menumbuhkan bisnis The SquareFoot adalah, “bagikan ide Anda dengan semua orang.” Ini tidak terbatas pada para pelaku startup saja, tetapi semua orang, baik dari rekan sesama CEO hingga teknisi. Dari berbagi didapat saran atau umpan balik yang tidak pernah terduga atau harapkan. Namun justru ini yang akan mematangkan kesiapan.

3. Venture capital bekerja sangat selektif
Aron melihat bahwa sebenarnya venture capital akan lebih selektif di putaran pendanaan tingkat lanjut di banding putaran sebelumnya. Misalnya, untuk meningkatkan pendanaan dari seri A ke seri B, perusahaan perlu memiliki pencapaian tertentu. Perusahaan harus dapat menonjolkan diri dengan menunjukkan metrik kuncinya dan bagaiamana tren bisnis mereka berada di arah yang benar. Jika tujuan utamanya adalah sesuatu selain pendapatan, tunjukanlah jalan yang jelas terkait monetasi dari metrik kunci tersebut.

4. Satu pencegahan bernilai satu pengobatan
Biaya pengacara memang mahal, pun polis asuransi, tetapi jauh lebih mahal untuk membersihkan bisnis ketika terjadi “kekacauan”.  Menurut Aron, meminta pendapat untuk tahu apa yang dibutuhkan bisnis dari founder lain atau agen, terkait dengan asuransi dan legal, tak akan ada ruginya.

5. Mempekerjakan orang itu sulit
Tiap pendiri startup ingin mendapat kandidat terbaik untuk dipekerjakan, tetapi menemukan yang seperti itu di pasaran dewasa ini sangat sulit. Di awal, Aron belajar bahwa salah satu cara untuk menemukan kandidat terbaik yakni dengan memberi pertanyaan yang berkaitan dengan perilaku. Menurut Aron, perekrutan pekerja sebenarnya seperti kencan dan kedua belah pihak harus tahu persis apa yang diharapkan.

6. Mengelolanya lebih sulit lagi
Ketika sudah berhasil mengumpulkan tim terbaik, tugas berikutnya adalah menghapus hambatan. Caranya dengan memberikan arahan strategis, visi, dan juga memastikan semua orang dapat berbaur. Tapi ingat juga bahwa hal sederhana seperti makan siang dapat menjadi medan sulit, terutama untuk mencari tahu siapa yang vegetarian misalnya, atau yang punya alergi makanan.

Bagi Aron, saran terbaik untuk mengelola tim ada dua. Pertama, harus ingat bahwa tidak mungkin untuk menyenangkan semua orang dan jika mencobanya, tak akan ada satupun yang senang. Kedua, jadilah cerdas untuk mencari topik, coba untuk berbicara ke sebanyak mungkin orang, dan belajar dari kesalahan mereka.

7. Jadilah selektif dalam meyakini nasehat mentor
Seorang pimpinan bisa saja dengan mudah menghabiskan pertemuan dalam sebulan dengan penasihat dan mengabaikan tanggung jawab sehari-hari dari bisnis. Menurut Aron, seorang pimpinan harusnya melakukan hal sebaliknya, cari tahu mana mentor yang paling masuk akal untuk mengembangkan hubungan dengannya.

Pimpinan bisnis juga dapat mencari mentor melalui berbagai saluran yang bisa dipercaya, misalnya dengan pergi ke acara networking, meminta dihubungkan melalui teman-teman, rekan kerja lama, atau melalui kanal media sosial profesional ala LinkedIn. Menurut Aron, rntrepreneur yang baik akan berusaha untuk maju dan tidak enggan untuk bertanya.

8. Fokus pada apa yang bisa dilakukan dengan baik dan delegasikan mana yang bisa dilakukan
Dalam mengelola sebuah bisnis ada tugas-tugas seperti pembayaran gaji, manajemen akuntansi, dan hukum yang sejatinya dapat dipercayakan pada pihak lain. Sebagai pengusaha, waktu adalah sumber daya yang sangat berharga, dan jika tugas-tugas tersebut tidak ada dalam inti keterampilan set seorang pimpinan, menurut Aron hal terbaik yang bisa dilakukan adalah menggunakan sumber daya luar.

Menurut Aron, akan sulit awalnya ketika harus membuat tangan seorang pemimpin binsis melepaskan segalanya, tapi itu memang tidak dapat berkelanjutan jika ingin mengendailkan segalanya terutama ketika ingin memperluas skala bisnis. Aron percaya, bila seorang pimpinan bisnis menemukan diri kehilangan tiket besar untuk kekhawatiran kecil, maka itu saatnya untuk mendelegasikan tugas.

Aron menjelaskan, “Saya selalu memberitahu orang-orang sepanjang waktu bahwa jika saya tahu bagaiamana kompleksnya membangun bisnis, saya mungkin tidak akan melakukannya. Namun,saya tidak bisa lebih bahagia atau lebih bangga dengan apa yang telah kami lakukan. Jadi sementara itu penting untuk mendapatkan pengetahuan sebanyak mungkin, ada sesuatu yang bisa dikatakan untuk menjadi naif dalam hal tertentu dan hanya terjun terlepas dari itu semua.”

Sumber : Dailysocial.net


Other articles