Unik, Kunci Sukses dalam Berbisnis

Dalam dunia entrepreneur/bisnis, keunikan adalah salah satu penentu keberhasilan. Bila Anda memperhatikan sekitar dan membandingkan bisnis yang satu dengan lainnya. Setidaknya ada beberapa perbedaan yang bisa anda temukan. Perbedaan antara bisnis yang dikemas biasa-biasa saja pastinya akan berbeda dengan bisnis yang dikemas dengan unik dan nyentrik. Bisnis yang unik bisa menjadi magnet yang dahsyat untuk menarik konsumen untuk mencoba barang atau jasa yang anda tawarkan kepada mereka.

Dalam tulisan Fitra Jaya Saleh, salah seorang Coach Bisnis terkemuka menguraikan sebuah cerita seperti ini, puluhan tahun yang silam di daratan Eropa, Niels Bohr, adalah satu-satunya pemenang hadiah Nobel Fisika dari Denmark. Saat ujian fisika, ada sebuah pertanyaan dari seorang dosen, “ Bagaimana menentukan tinggi sebuah gedung lantai 35 dengan menggunakan barometer?” Dia menjawab, “kita menggunakan benang yang diikatkan pada ujung barometer tersebut, lalu kita turunkan dari lantai 35 sampai menyentuh tanah. Kita berikan tanda pada benangnya, kemudian kita tarik lagi ke atas dan diukur berapa meter panjang benang tersebut lalu ditambah 35 cm (panjang barometer). Maka kita akan tau berapa tinggi gedung tersebut.

Mendapatkan jawaban demikian nampaknya membuat sang dosen sangat marah, karena selain bandel si guru juga sangat membencinya. Akhirnya si guru tersebut tidak meluluskan ujiannya. Niels Bohr mengajukan keberatan kepada dewan sekolah untuk meninjau angka ujiannya. Di hadapan dewan sekolah, ia menjelaskan jawaban ujiannya.

Singkatnya, pada saat itu karena gurunya tahu bahwa anak ini pintar, maka dilakukanlah ujian ulang. Dipanggillah empat dosen paling senior untuk menguji murid ini. Besoknya ketika ujian berlangsung, empat dosen tersebut hanya memberikan waktu 10 menit untuk menjawab pertanyaan semua soal ujian. Dengan secarik kertas, dia mencorat-coret, menggambar bintang, bulan, dan sebagainya.

Empat dosen ini mulai marah karena pada menit yang kedelapan dia belum juga memberikan jawaban apapun. Sampai akhirnya dosen-dosen tersebut bertanya, “Sebenarnya kau bisa menjawab tidak?” Si murid menjawab, “Saya sebenarnya mempunyai banyak jawaban tetapi saya bingung, saya harus memberikan jawaban yang mana”. “Pertama, saya bisa saja melihat sinar matahari pada pukul 09.00. Gedung tersebut pasti mempunyai bayangan. Kita ukur bayangan tersebut. Kalau misalnya bayangan tersebut panjangnya 150 m, lalu saya akan mengambil barometer dan dikenakan ke matahari. Saya juga akan tahu berapa panjang bayangan barometer tersebut. Kalau panjang barometer tersebut 50 cm, maka dengan perbandingan sederhana saya bisa tahu tinggi gedung tersebut. “Kedua, saya bisa saja membawa barometer tersebut ke lantai paling atas. Dengan memakai stop watch, saya jatuhkan barometer tersebut. Tunggu beberapa detik sampai barometer itu menyentuh lantai. Saya langsung tahu berapa waktu yang dibutuhkan oleh barometer untuk menyentuh lantai bawah.

Dengan menggunakan pengukuran gravitasi bumi dan kecepatan barang itu jatuh, saya bisa tahu tinggi gedung itu tetapi sayangnya barometer tersebut akan pecah”.

“Saya juga sempat berpikir begini, kalau saya naik tangga darurat, kemudian saya ukur tingginya tangga tersebut dengan barometer satu per satu. Tinggal mengalikan 35cm maka saya akan mengetahui berapa tingginya gedung tersebut. Tentu banyak cara lain”.

“Saya juga bisa menggunakan dengan cara yang sederhana dengan melihat tekanan udara di bawah berapa dan di atas berapa. Dengan menggunakan rumus sederhana, saya bisa tahu jawabannya”.

Lalu diteruskannya, kalau ingin yang lebih scientific, maka kita bisa gunakan pendulum. Ikatkan pendulum pada seutas tali sepanjang1 m kemudian swing-kan pendulum tersebut di lantai bawah. Si mahasiswa meneruskan kalimatnya. “Saya juga akan melakukannya di lantai atas. Perbedaan kecepatan swing dengan menggunakan rumus yang complicated, bisa mendapatkan tinggi gedung tersebut. Karena gaya gravitasi yang berbeda pada ketinggian lantai 35 dan lantai dasar.

Tentu cara tersebut sangat sederhana dan bermacam-macam. Tetapi yang paling saya sukai adalah jika saya tinggal bertanya saja pada satpam berapa tinggi gedung ini, kalau Anda bisa jawab saya kasih hadiah barometer.” Nah, akhirnya Niels Bohr diluluskan dan dia adalah satu-satunya pemenang hadiah Nobel fisika dari Denmark.

Dalam kehidupan ini banyak yang nyeleneh seperti itu. Kita tidak bisa menilai bahwa orang itu nakal, bodoh dan sebagainya. Mereka kadang-kadang akan mengejutkan dunia ini. Kadang kita perlu untuk menjadi unik dalam kompetisi hidup yang begitu ketat. Pikirkan tentang kelebihan yang kita miliki dan jarang dimiliki orang lain, dan jadikan senjata untuk menjadi unik. Semoga bisa memberikan inspirasi, dan Salam Sukses.!

(Editor: Zein, TDA Mataram)


Other articles